Minggu, 06 April 2014

Bintang

Bintang telah mempertemukan kita
Saat kita pertama kali bertemu di Bosscha
Dan saat pertama bertemu,
Kamu menebak namaku dengan tepat
Aquila, seperti rasi bintang yang berarti elang

Matamu yang hazel menatapku penuh kehangatan
Dengan senyum yang mungkin bisa membuat para wanita terpana
Dan tanganmu yang lembut menjabat tanganku yang mungil

Kamu menceritakan beberapa rasi bintang yang kamu suka
Aku hanya menatapmu selama bercerita
Menatap wajahmu yang penuh dengan ekspresi

Ketika matamu melihat mataku
Bertemu di satu titik yang sama
Aku merasa matamu seperti Sagitta
Yang menusuk di mataku, juga hati
Sagitta, rasi bintang yang berarti anak panah

Mungkin kejadian ini pun akan seperti Sagitta
Yang memanah otakku
Dan otakku sudah di kelilingi oleh Scutum
Rasi bintang yang berarti perisai
Yang akan melindungi otakku dari Sagitta lainnya

Bulan Sabit

Setiap malam, jika bulan sabit muncul
Aku selalu mellihatnya di taman dekat rumah
Diringi suara petikan gitar yang entah darimana
Tapi, suara petikan gitar itu selalu ada saat bulan sabit muncul

Ketika bulan purnama muncul
Aku iseng melihatnya di taman dekat rumah
Tapi suara petikan gitar itu tidak terdengar lagi

Dan ketika bulan sabit itu muncul lagi setelah sekian lama
Karena adanya hujan,
Tiba-tiba kau muncul membawa gitar
Di bawah sinar bulan sabit yang hanya terpancar sedikit
Kamu tersenyum ke arahku
Dengan gigi berderet rapi dengan mata sipit seperti bulan sabit

Kini aku tahu siapa yang selama ini memetik gitar
Saat bulan sabit ada di langit
Itu kamu, pria dengan mata sipit seperti bulan sabit jika tersenyum

Aku tahu mengapa kamu hanya muncul saat bulan sabit ada
Karena mata sipitmu itu jika tersenyum terlihat seperti bulan sabit
Aku suka bulan sabit
Aku pun sepertinya suka matamu yang jika tersenyum terlihat seperti bulan sabit
Tapi sepertinya aku bukan hanya menyukai matamu saja yang terlihat seperti bulan sabit itu

Senja

Senja selalu indah
Seindah saat hari-hariku bersamamu

Setiap senja kita selalu berjalan bersama di tepi pantai
Dengan hembusan angin yang menerpa tubuh
Dengan suara ombak yang bergemuruh

Setiap hari kau menceritakan segala yang kamu alami
Begitu pun aku

Aku selalu suka saat kamu tertawa
Dengan lesung pipi dan matamu yang menjadi sedikit sipit
Aku pun selalu suka saat kamu menggengam tanganku
Hangat
Penuh dengan rasa sayang

Aku berharap bisa selalu bersamamu
Mengulang kebiasaan kita seperti ini
Di bawah senja yang indah

Selasa, 12 November 2013

Ayah

Kini aku tak tahu keadaanmu bagaimana. Aku tak tahu kau tinggal dimana. Setelah sekian tahun tidak bertemu, mungkin kau akan lupa akan wajah anakmu. Terakhir kau mengirimkan surat padaku, saat aku berumur 12 tahun. Kini usiaku sudah menginjak 17 tahun. Sudah lama sekali, bukan? Iya, hari ini aku ulang tahun. Apa kau ingat? Dulu jika ulang aku berulang tahun, kita merayakannya secara kecil-kecilan. Setelah kau pisah dengan Ibu, saat aku berulang tahun kau mengirmkan kado dan sebuah kartu ucapan. Tapi sealama 5 tahun kebelakang, aku tidak pernah mendapatkan itu lagi. Apa kau tidak ingat?

Tidak lama aku merenungkan semua itu, ada sebuah paket kiriman datang. Saat aku membukanya, paket itu berisikan kartu ucapan dan koran lama. Awalnya aku bingung kenapa isi paket itu berisikan kartu ucapan dan koran lama di Kota Ayah? Aku tak mempedulikannya. Aku mulai membaca kartu ucapan tersebut. Kartu itu bertuliskan

Selamat ulang tahun anakku! Semoga di umur ke 17 ini kamu akan selalu dewasa dan tak lupa untuk bersyukur kepada Tuhan karena masih memberimu umur hingga sekarang. Jadilah anak yang baik, dan kejarlah cita-citamu. Maafkan Ayah selama ini tidak pernah mengirimmu kabar dan tidak pernah mengirimmu lagi hadiah beserta kartu ucapan. Dan maafkan Ayah, karena kali ini, Ayah hanya bisa memberi koran lama ini. Kamu bisa membaca koran ini halaman 7. Sekali lagi selamat ulang tahun anakku tersayang!

Lalu aku mulai membuka koran lama tersebut. Aku buka halaman 7 dan aku menemukan berita bahwa ada seorang pria berumur 42 tahun meninggal karena tertembak saat terjadi perampokan di tokonya. Aku menangis sejadi-jadinya. Padahal aku selalu berharap bisa bertemu lagi dengamu suatu saat nanti, meskipun kau dan Ibu telah berpisah. Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Andai saja 5 tahun kebelakang aku menengokmu sesekali meskipun dari kotaku ke kotamu harus menempuh waktu selama 6 jam. Aku menyesal. Sungguh aku menyesal. Aku hanya bisa menangis sambil menggengam koran tersebut. Dan kini jika aku rindu, aku hanya bisa menatap foto lamamu, Ayah.

Selamat jalan Ayah, semoga kau diterima di sisi Tuhan. Maafkan aku Ayah karena dulu aku tak pernah menengokmu. Minggu depan, aku akan kemakam Ayah meskipun aku tak tahu, tapi akan mencari tahu dimana makam Ayah. Aku selalu doakan Ayah. Aku selalu merindukanmu, Ayah. Dan selamat hari Ayah, aku menyayangimu selamanya!

Jumat, 01 November 2013

Malaikatku


Setiap aku pergi sekolah, aku selalu melihatmu sedang bersiap-siap berjualan nasi uduk. Parasmu yang cantik, dan senyummu yang indah selalu teringat dalam benakku. Saat aku pulang sekolah, kadang aku melihatmu sedang melamun. Entah kau melamun, memikirkan apa. Apakah kau memikirkanku? Apakah kau merindukanku? Andai kau tahu, aku sungguh merindukanmu…

Dulu saat aku kecil, kau mengarjkanku berbicara, menulis, bernyanyi dan menari. Dengan kesederhanaanmu, kau selalu membuatku hangat dan nyaman layaknya malaikat yang selalu melindungiku. Kau menyekolahkanku di sebuah sekolah dasar yang diidam-idamkan oleh seluruh anak walaupun dengan keterbatasan biaya. Setiap pagi, kau selalu menyiapkan sarapan, membuatkan bekal dan bahkan kau mengantarku kesekolah. Setelah aku pulang sekolah, kau sudah menungguku di depan gerbang sekolah dengan payung berwarna abu agar aku tidak terkena panas atau terkena hujan. Saat aku sakit, kaulah yang merawatku hingga aku sembuh. Kau juga yang mengajarkanku berhijab, dank au selalu mengajarkanku untuk bersyukur kepada Allah SWT. Setiap malam, kau mengajarkanku shalat dan mengaji. Dengan keikhlasanmu, kau merawatku hingga aku remaja. Hingga suatu ketika, kau bercerita bahwa aku sebenarnya anak yang dititipkan oleh seorang wanita yang waktu itu sedang membeli nasi udukmu. Aku menangis saat mengetahui kenyataan itu. Aku bertanya kepadamu, siapakah Ibuku yang sebenarnya? Lalu secara diam-diam, kau mencari tahu tentang keberadaan Ibuku. Dan suatu hari Ibuku yang asli mendatangi rumahmu, dan berbicara kepadamu, entah membicarakan apa. Aku melihat dia, Ibuku, memberikan amplop coklat kepadamu. Setelah itu Ibuku membawaku pergi. Sebenarnya aku tidak mau ikut bersama Ibu, aku ingin tetap bersamamu. Tapi kau berkata “Ikutlah nak, dia adalah Ibumu. Dia akan menyayangimu lebih dari aku. Kamu biasa meminta apapun yang kamu mau. Kamu akan hidup enak.” Tapi tetap saja sebenarnya aku tidak mau, karena aku hanya butuh kasih sayang yang tulus dari seseorang sepertimu. Aku benci saat Ibuku bilang bahwa aku tidak boleh menemuimu lagi. Aku sangat benci! Aku menangis semalaman, tidak makan, tidak minum, tidak sekolah bahkan aku tidak keluar kamar. Aku hanya ingin selalu bersamamu walau kau bukan Ibuku. Tapi aku menyayangimu, aku mencitaimu, malaikatku.

Kini aku hanya menatapmu dari jauh dan aku hanya bisa mengetahui keadaanmu sedang baik atau buruk dari temanku yang selalu membeli nasi udukmu. Ingin sekali rasanya aku memelukmu, merasakan kasih sayangmu lagi. Tapi aku tidak mau kau tersakiti. Karena Ibuku mengancam, jika aku masih menemuimu kau akan  tersiksa. Seharusnya aku tidak ikut bersama Ibu. Seharusnya aku tetap memilih bersamamu, walau dalam keadaan apapun tapi aku selalu merasa bahagia, aku selalu merasa hangat dan nyaman. Aku merindukanmu wahai malaikatku...

Senin, 27 Mei 2013

Tanpa Judul


Sudah beberapa tahun aku bersama mereka. Bisa jadi lebih dari 5 tahun. Tapi perasaan ini tak kunjung pergi. Andai saja aku tak pernah mengenal mereka, mungkin aku tidak akan merasakan hal seperti ini. Aku mempunyai dua orang sahabat yang bernama Sherin dan Mario. Sebenernya mereka itu sepasang kekasih. Awalnya kita semua hanya sahabat biasa, tetapi semua berubah ketika Mario menyatakan cinta kepada Sherin. Sebenarnya aku juga menyukai Sherin tetapi apa daya, aku hanya bisa memandam perasaan ini agar semua baik-baik saja dan mungkin aku akan mengungkapan jika waktunya sudah tepat.
Hari demi hari aku lewati bersama mereka. Tahun demi tahun hubungan mereka semakin erat. Tetapi pada hari Kamis, Mario telat datang ke kampus dan Sherin sibuk menanyakannya. Aku hanya bisa mengatakan tidak tahu kepada Sherin. Meskipun kami satu kontrakan tapi aku tidak selalu tahu kemana Mario pergi.
Sebentar lagi mata kuliahku selesai. Tetapi tetap saja Mario masih tidak terlihat. Setelah dosen mengakhiri mata kuliah terakhir aku bertemu Sherin di Kantin. Dia pun menanyakan hal yang sama seperti tadi pagi. Sherin berkata saat dia menghubungi Mario, handphonenya tidak aktif. Sherin sangat sedih, dan aku berusaha menghiburnya dan mengajak dia ke tempat yang sangat ia sukai yaitu ke Gallery Unik. Dia memang sangat suka dengan lukisan dan foto yang indah. Seketika pun dia melupakan Mario. Saat melihat jam di handphone ternyata sudah pukul 5 sore. Aku pun mengajak dan mengantarkan Sherin pulang.
Saat aku tiba di rumah, aku memanggil-manggil nama Mario tetapi tidak ada yang merespon. Aku pun memeriksa kamar Mario, siapa tahu dia sedang tidur di kamarnya. Ternyata dia tidak ada. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kertas yang berisikian permintaan maaf dari Mario untukku dan Sherin karena dia pergi begitu saja. Di dalam surat itu bertuliskan bahwa dia harus pergi karena harus menyelesaikan masalahnya dengan keluarga yang berurusan dengan polisi juga. Aku pun tak tahu itu masalah apa. Tetapi yang jelas dia memang pernah cerita bawah dia punya masalah dengan keluarganya tetapi tidak menceritakan apa masalahnya.
Aku segera menelepon Sherin dan menyuruhnya datang ke rumahku. Aku menunjukan kertas itu pada Sherin, dia pun menangis saat membacanya. Aku pun hanya bisa menasehatinya dan berkata bahwa setiap orang yang datang pasti akan pergi. Dan kepergian orang itu akan menghadirkan orang baru.
Keesokan harinya, aku mengajak Sherin ke sebuah Mall dan rencananya aku akan menyatakan perasaanku padanya. Saat aku menyatakan perasaan itu Sherin tidak percaya, tetapi aku meyakinkan padanya bahwa aku serius dan itu semua memang benar. Sherin pun berfikir sejenak, lalu ia berkata tidak akan pernah menerimaku karena dia membutuhkan aku sebagai seorang sahabat yang selalu ada untuknya. Dan dia tidak mau kehilangan lagi orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.

Kamis, 04 April 2013

Cinta Terakhir di Kota Bandung


Andai aku bisa mengulang waktu. Aku ingin terus bersamanya, detik demi detik, hari demi hari bahkan tahun demi tahun. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain, dan Dia telah menyuruh malaikat untuk menjemput orang yang baru aku kenal dengan secepat itu. Tuhan merindukannya, sehingga ia di jemput begitu cepat. Lagi pula siapa yang tidak akan merindukan sesosok pria tinggi, yang ideal, berkulit kuning langsat, dan mempunyai dua lesung pipi?
Aku bertemu dengannya saat berlibur di Bandung, di sebuah stasiun kereta api. Di sana aku punya cerita tersendiri saat pertama kali bertemu dengannya. Saat aku sedang berjalan mencari kendaraan untuk menuju ke rumah Tanteku, ada seorang pria yang memanggilku.
“Hei, apa kamu yang bernama Faradila? Ini dompetmu tertinggal!” teriaknya.
Aku pun berhenti melangkah dan melihat siapa yang memanggilku dari jauh sana. Dia mendekat dan memberikan dompetnya kepadaku. Aku pun berterimakasih padanya. Setelah itu dia memperkenalkan diri.
“Namaku Reno, aku berasal dari Yogyakarta tapi kini aku sedang berlibur bersama teman-temannku di Bandung.”
Aku hanya tersenyum dan berjabat tangan dengannya. Setelah itu dia bertanya,
“Asalmu dari Jakarta iya? Kamu mau pergi kemana? Mau aku antar?”
“Iya, kenapa kakak bisa tahu? Aku mau pergi ke rumah Tanteku di daerah kopo dekat Rumah Sakit Immanuel. Apa kakak tahu jalan menuju kesana? Jika kakak tidak keberatan, aku mau di antar oleh kakak.”
Setelah itu aku dan kak Reno menaiki sebuah mobil kodok berawarna merah dan dia pun bercerita banyak tentang dirinya. Tak lama kemudian, sampailah kami di rumah Tanteku. Di sana ada yang menyambutku dengan senang yaitu Tania, sepupuku. Dia menyangka bahwa kak Reno adalah pacarku. Aku hanya tertawa saat mendengar kata-kata itu dari sepupuku lalu aku menjelaskan padanya kejadian yang tadi aku alami di stasiun kereta api. Tidak lama setelah itu, kak Reno pamit pulang dan berkata bahwa dia sudah punya janji bersama teman-temannya.
Saat aku sedang asik bbman dan twitteran dengan teman-temanku, ada telepon dari nomor yang tidak aku kenal. Ketika aku angkat,
“Asalamualaikum, ini siapa?”
“Walaikumsalam, ini Reno.”
“Oh kak Reno, ada apa kak?”
“Tidak ada apa-apa, hanya ingin mengobrol saja.”
“Oh begitu. Kakak tahu nomor handphoneku darimana?”
“Dari Tania.” jawabnya diiringi dengan suara tertawa. Ditengah pembicaraan, kak Reno mengajakku mengelilingi kota Bandung esok hari pukul tiga sore. Aku pun mengiyakan ajakan kak Reno. Setelah kak Reno mematikan telepon, aku menceritakan semuanya kepada Ibu dan teman-temanku lewat bbm lalu aku pun tertidur.
Keesokan harinya, aku membantu Tante memasak untuk sarapan pagi dan menceritakan tentang Reno.
“Tan,  tau engga? Semalem yang nganter aku kesini ngajak aku keluar rumah jam tiga sore.”
“Terus apa hubungannya dengan Tante?”
“Aku kan mau minta izin, Tan. Boleh engga?”
“Boleh aja, asal pulangnya jangan terlalu larut.”
“Asik, makasih Tante. Iya siap Tante sayang.”
Jarum jam menunjukan tepat pukul tiga sore, kak Reno menjemputku dan saat aku berpamitan kepada tante, ternyata Tania pun hendak pergi keluar rumah tapi motornya rusak dan Tania memohon kepada kak Reno untuk ikut menaiki mobil bersama kami. Kak Reno mengiyakan permohonan Tania. Ditengah perjalanan Tania berbicara,
“Kak, katanya mau ngungkapin perasaan sama Dila? Tapi kok malah diem aja sih?”
“Ngungkapin perasaan? Sama aku? Perasaan apa?”
“Kamu jangan pura-pura engga tau gitu, Dil.”
“Heh, Tania kamu mau turun dimana? Dari tadi ngomong aja.” ucap kak Reno.
“Kakak ngusir nih? Oke aku turun deket halte di depan sana.” Setelah sampai di depan halte, sebelum Tania turun dia berbicara lagi,
“Kak Reno yang ganteng cepet tembak Dila nanti keburu di rebut orang lain.”
“Bersik kamu! Udah sana cepet turun.” Tania pun turun dan kak Reno memulai pembicaraan. “Dil, bener yang tadi Tania bilang. Aku mau ngungkapin perasaan sama kamu.” seketika pun suasana hening dan yang terdengar hanya embusan angin. Lalu kak reno melanjutkan pembicaraannya “Mau engga kamu jadi pacar aku? Tapi sayang kayaknya bentar lagi aku pergi ninggalin kamu.”
“Ninggalin kemana?”
“Sebenernya aku punya penyakit leukeumia. Akupun engga tahu berapa lama lagi aku hidup di dunia ini karena penyakitku semakin parah. Aku cuman ingin di kota ini, aku bisa bahagia dan nemuin cinta terakhir aku. Jadi kamu mau engga jadi pacarku sekaligus jadi cinta terakhirku? Aku  tahu kita baru pertama kenal tapi hati ini bicara bahwa kamulah cinta terakhirku.”
Dengan perasaan sangat bingung aku pun menjawab, “Tapi sebelumnya maaf, aku cuma nganggap kalau kakak itu adala kakakku. Aku engga bisa jadi pacar kakak, maaf iya kak.”
“Yaudah engga apa-apa, Dil. Tapi kalau kakak tetep pingin di deket kamu bolehkan?” Aku hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan tersebut.
Tidak lama kemudian tibalah kami di suatu tempat, di daerah Lembang dan disana banyak sekali orang-orang yang seumuran dengan kak Reno. Dia pun mengajakku ke tempat orang-orang itu berkumpul. Ternyata itu semua temannya dan yang aku tidak sangka adalah salah satu teman kak Reno adalah pacar kakakku. Aku hanya tersenyum saat bertemu dengannya. Di sana tidak hanya ada pria saja, tetapi ada juga beberapa wanita. Wanita-wanita itu adalah pacar teman-teman kak Reno. Di sana aku berkenalan dengan mereka semua dan ternyata hanya aku yang berumur 16 tahun.
Setelah acara beres, kami pulang sekitar pukul 8 malam. Dan tiba di rumah tanteku pukul 9 malam. Aku pun mengucapkan terimakasih kepada kak Reno karena telah mengajakku keliling Bandung dan memperkenalkanku kepada teman-temannya. Tak lupa aku meminta maaf kepadanya karena tidak bisa menjadi kekasihnya. Setelah itu aku pun segera mengganti baju, cuci muka dan segera tidur.
Pada pukul 3 subuh, ada telepon dari salah satu teman kak Reno dan mengatakan bahwa kak Reno masuk rumah sakit. Aku pun segera membangunkan tante dan Tania lalu menceritakan yang telah terjadi. Setelah itu aku, tante dan Tania segera menuju rumah sakit. Saat aku melihat keadaan kak Reno, entah mengapa air mataku menetes dan tiba-tiba kak Reno tersadar dan mengatakan terimakasih banyak kepadaku karena telah membuatnya bahagia meskipun aku tidak bisa menjadi kekasih terakhirnya. Setelah itu kak Reno pun mengucapkan selamat tinggal dan suara alat detak jantung pun berbunyi dengan panjang. Kak Reno telah tiada dan meninggalkan orang-orang di sekitarnya. Aku menangis sekencang-kencangnya dan aku pun memeluk jasadnya yang telah tenang melepas beban yang selama ini ia rasakan.


Terimakasih kak Reno, hanya kakak yang bisa membuatku bahagia di kota Bandung. Semoga kakak tenang di alam sana dan semoga kisah kita terkenang di kota itu. Maaf aku tidak bisa menjadi cinta terakhir kakak. Tapi aku sayang kakak dan aku akan merindukan kakak. Kakak yang tenang di alam sana, aku akan selalu mengunjungi kota Bandung sekaligus mengunjungi makam kakak meskipun aku tak punya keluarga di Bandung lagi karena tante sudah pindah ke Kalimantan. Sekali lagi terimakasih dan maaf, kak. Salam hangat dari orang yang tidak bisa jadi cinta terakhirmu,


Faradila Nasyila